Senin, 31 Januari 2011

IKAN LIMBAT/LEMBAT

Limbat (Clarias nieuhofii) adalah sejenis ikan lele yang bertubuh panjang dan (umumnya) kekuning-kuningan. Ikan ini menyebar luas di Asia Tenggara termasuk di Semenanjung Malaya, Jawa, Sumatra, Kalimantan hingga Filipina. Di Jambi disebut lembat, di Jakarta dikenal sebagai lindi.

Ikan lele yang bertubuh gilig memanjang, panjang tubuh 8-9 1/3 kali tingginya. Panjang total termasuk ekor hingga 490 mm. [1] Sepintas, bukan tidak mirip dengan sidat.
Sirip-sirip punggung (dorsal) dan dubur (anal ) memanjang dan bersatu dengan sirip ekor, setidaknya pada pangkalnya. Sirip dorsal dengan 87-106 jari-jari lunak, sirip dubur 63-93 jari-jari lunak. Duri pada sirip dada (biasa disebut patil) agak lemah, panjangnya sekitar 2/3 sirip dada.
Warna tubuh abu-abu atau kekuningan; gelap di sisi atas dan keputihan di sebelah bawah kepala dan tubuh. Terdapat 13-20 deret vertikal bintik-bintik keputihan di bagian punggung[1] di sebelah atas gurat sisi, dan dua deret horizontal memanjang bintik-bintik serupa di bawah garis tersebut. Deretan bintik-bintik yang terakhir itu kadang-kadang berupa serial deretan miring atau tanpa pola yang jelas.

JENIS SERUPA DENGAN LIMBAT
Ada beberapa spesies lele yang lain yang mirip dengan limbat, baik dalam pola pewarnaan maupun dalam bentuk tubuh. Banyak jenis yang memiliki pola deretan bintik-bintik vertikal di sisi punggungnya, namun memiliki sirip punggung dan dubur yang terpisah (tidak menyatu) dengan sirip ekor. Sebagian di antaranya menyebar terbatas (endemik):
Clarias batu Lim & Ng, 1999 (lele batu); 9-14 deret vertikal bintik-bintik yang relatif lebih kecil; dan menyebar terbatas di Pulau Tioman, Malaysia.
Clarias anfractus Ng, 1999.[4] Endemik di Sabah: di sekitar Sungai Segama dan Sungai Kalabakan.
Clarias leiacanthus Bleeker, 1851.
Clarias planiceps Ng, 1999 (lele kepala-pipih). Endemik di Kalimantan: hulu Sungai Rajang dan Kapuas, Kalbar, serta Sungai Kayan, Kaltim.Jenis limbat hitam (Clarias nigricans Ng, 2003) memiliki sirip punggung dan dubur yang menyatu dengan sirip ekor, namun kepalanya relatif lebih sempit (11,7-12,3% SL) dan moncongnya juga menyempit. Bintik-bintik di sisi tubuh relatif lebih kecil. Jenis ini menyebar terbatas di Kalimantan Timur, di sekitar aliran Sungai Mahakam. Limbat sentarum (Clarias pseudonieuhofii) bahkan sukar dibedakan dari limbat biasa tanpa melakukan pengukuran morfometrik yang teliti atau melakukan analisis genetika. Namun sejauh ini limbat sentarum hanya didapati di hulu aliran Sungai Kapuas, khususnya di sekitar Danau Sentarum.



0 komentar:

Posting Komentar